Showing posts with label SAINS. Show all posts
Showing posts with label SAINS. Show all posts

Wednesday, May 19, 2010

Payung Bercahaya Untuk Keselamatan Anda

Setiap orang yang ke luar rumah pada saat hujan deras di malam hari bisa saja membahayakan keselamatan dirinya. Setiap kendaraan yang melintas di jalan tidak selalu jelas melihat suatu benda yang ada di hadapannya, terutama mungkin saja seseorang
yang sedang berjalan.



Tetapi kini tidak perlu lagi khawatir kehujanan dan berjalan dalam kegelapan, karena sebuah payung bercahaya telah di ciptakan agar pengguna jalan lain dapat lebih mengetahui keberadaan seseorang. Payung yang bernama StrideLite Illuminating Umbrella ini dilengkapi lampu pijar Krypton dengan tegangan sebesar 6 volt.

Lampu ini dipasang tepat di bawah bahan kanopi payung sehingga dapat menerangi seluruh sisi payungnya, 360 derajat. Harga payung berpijar ini sekitar Rp 300 ribu per unit.

Sunday, May 16, 2010

Orang Tibet Punya Gen Unik Hingga Bisa Hidup dengan Oksigen Tipis

Warga Tibet yang hidup di "atap" bumi mempunyai gen unik. Gen unik ini berevolusi sehingga membantu mereka bertahan hidup di ketinggian puncak gunung yang sedikit oksigen



Ilmuwan mengatakan, genetik mereka membuat langkah pencegahan dari penyakit ketinggian yang berpotensi fatal pada penderita kurang oksigen. Sebagai hasilnya, mereka bernapas dengan mudah dalam kondisi udara yang tipis. Padahal kondisi seperti itu biasanya menjadi penyebab penyakit bertambah parah atau bahkan membawa kematian.

Para ilmuwan membuat penemuan setelah pengambilan sampel darah dari 31 warga di sebuah desa di Tibet, yang terletak di ketinggian 14,720 kaki atau sekitar 4.486 meter di atas permukaan laut.

Analisis DNA penduduk desa setidaknya mengungkapkan 10 gen yang dapat membantu tubuh mereka mengatasi di hidup di daerah ketinggian. Dua bagian tertentu mempengaruhi haemoglobin, oksigen yang membawa molekul dalam sel darah merah.

Menurut Joseph Prchal, salah seorang peneliti dari Universitas Utah di Amerika Serikat, yang unik tentang orang-orang Tibet adalah mereka tidak mengembangkan jumlah sel darah merah tinggi. Bila hal ini bisa dipahami maka bisa dikembangkan terapi untuk penyakit manusia.

Dataran tinggi Tibet, dikenal sebagai atap dunia, adalah dataran tertinggi di Bumi. Ini adalah dataran tinggi, termasuk dua puncak tertinggi, yakni Everest dan K2.

Para ilmuwan percaya orang-orang yang tinggal di wilayah ini menyesuaikan dengan lingkungan mereka lebih dari ribuan tahun melalui seleksi alam.


Penduduk yang belajar untuk bertahan hidup di dataran tinggi lainnya di dunia, seperti penduduk Amerika Selatan di pegunungan Andes, dan warga Etiopia di pegunungan Afrika. Namun, tak satu pun yang mengalami perubahan genetik yang sama dengan Tibet.


Sakit pada ketinggian, yang biasanya menyerang pendaki gunung, dapat berakibat fatal. Biasanya berpotensi membangun cairan di otak dan paru-paru. Warga Tibet tampaknya tidak akan mendapatkan efek semacam ini.

Burung Awalnya Tak Dapat Terbang

Burung yang pertama kali ada di bumi justru tak dapat terbang karena tidak memiliki sayap yang cukup kuat untuk dikepakkan ke udara. Sementara jenis burung yang ada saat ini sebagian besar memiliki sistem jaringan tubuh yang berbeda sehingga dapat mengatur kemampuan terbang.



Jenis burung yang pertama kali ada di bumi adalah Archaeopteryx dan Confuciusornis. Archaeopteryx hidup pada zaman purba atau sekitar 140 juta tahun lalu adapun Confuciusornis hidup sekitar 100 juta tahun lalu.

Robert Nudds dari Universitas Manchester dan Gareth Dyke dari Universitas Dublin mengatakan, kendati rangka tubuh Archaeopteryx dan Confuciusornis atau burung zaman purba itu kekar, namun kerangka yang kuat itu justru tidak mendukung untuk terbang.

Menurut Robert Nudds, jenis burung semakin bervariasi dan memiliki postur yang berbeda-beda. Salah satu teori menyebutkan burung pada zaman purba adalah sama seperti dinosaurus kecil yang hidup di pohon. Mereka mencari makanan dengan cara "meluncur" dari pepohonan sambil belajar terbang dengan menggunakan sayap.

Wednesday, May 12, 2010

Bukti Bahwa Kepiting Mampu Berlari Maraton Selama Lima Hari

Bumi kita memang masih dipenuhi oleh misteri ilmu pengetahuan. Siapa sangka, binatang dengan bentuk yang kecil dan tampak lemah sebenarnya punya kekuatan yang belum tentu dapat dilakukan oleh manusia. Dialah binatang yang bernama kepiting. Ternyata binatang kecil dan terlihat lemah ini memiliki keistimewaan dapat berlari maraton selama lima hari berturut-turut.



Kepiting ini adalah kepiting merah yang berada di daerah Burrows Pulau Christmas, Australia. Selama musim kering, kepiting-kepiting di pulau ini tidur dan bermalas-malasan di lubang-lubang di dalam maupun luar pasir. Namun ketika memasuki musim hujan, terjadi perubahan yang dramatis pada mereka.

Saat musim hujan, mereka tiba-tiba menjadi sigap dan kuat. Kepiting-kepiting itu juga mampu berlari selama lima hari. Apa yang terjadi? Menurut para peneliti, terjadi perubahan pada otot kaki kepiting ketika memasuki musim hujan karena mereka harus melakukan migrasi. "Otot kaki yang semula lembek menjadi keras dan kuat," kata Progfesor biologi dari Universitas Bristol, Mark Viney.

Kepiting-kepiting ini hanya perlu pemanasan selama sepuluh menit, setelah itu ribuan kepiting itu dapat berlari 12 jam dalam sehari selama lima hari tanpa istirahat atau berhenti sejenak. Menurut Viney, otot yang ada pada kepiting memang berbeda, sebagaimana perbedaan antara otot kaki dengan otot yang bekerja pada jantung.

Kini, para peneliti masih menganalisa secara genetis apa penyebab perubahan otot pada kaki kepiting tersebut. Caranya, dengan mengambil contoh otot kaki kepiting selama musim kering dan musim hujan pada saat mereka bermigrasi.

Friday, May 7, 2010

BERSIAPLAH, Telah di Kembangkan Alat Pembaca Pikiran.

Penelitian oleh para ilmuan untuk peranti otak nirkabel kini tengah dilakukan dengan harapan dapat memindai pikiran dengan cepat. Sehingga dapat mengambil data percakapan demi menolong orang yang mengalami kerusakan otak agar dapat kembali berkomunikasi.



Hal ini dilakukan dengan cara membaca gelombang otak lewat elektroda yang ditempel ke kepala. Tetapi hali ini ternyata terbukti sangat lamban, diperkirakan hasilnya satu kata per menit sehingga hampir tidak mungkin diterapkan pada pembicaraan normal dan interaksi sosial.

Kini, ahli saraf kognitif Frank Guenther dari Universitas Boston bersama para koleganya menunjukkan suatu peranti otak yang memakai elektroda yang ditanamkan langsung dalam otak demi meneliti cara bicara dalam waktu riil.

Elektroda itu mencatat sinyal dari otak, lalu secara nirkabel data itu dikirim pada suatu alat synthesizer suara. Penundaan antara aktivitas otak dan hasil suara rata-rata hanyalah 50 milidetik. Dan hal ini cukup mendekati pembicaraan normal.

Dengan penemuan ini, tak lama lagi individu yang telah lumpuh total sehingga tak bisa berbicara, akan memiliki kemungkinan untuk bersuara lewat komputer atau laptop. Keren..

- Cadex | My Blox